DI HADAPAN PARA SEKRETARIS

WKMA BIDANG NON YUDISIAL MENGATAKAN BAHWA MENJADI PEMIMPIN YANG SUKSES DUNIA AKHIRAT BISA DIRAIH BERSAMAAN

Jakarta – Humas MA: Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Non Yudisial, Dr. Sunarto, SH., MH, memberikan pembekalan kepada 120 Sekretaris yang berasal dari Pengadilan Tingkat Banding , Pengadilan Negeri Kelas 1A dan Pengadilan Tingkat Pertama Peraih Peringkat Terbaik Pelatihan Kepemimpinan dari seluruh Indonesia pada Rabu, 24 Juli 2019 di lantai 2 gedung Mahkamah Agung.

Pada kesempatan tersebut Sunarto mengatakan bahwa kesuksesan sebuah pengadilan menjadi salah satu andil suksesnya seorang sekretaris. Untuk itu, Ia berpesan agar para sekretaris haruslah menjadi pemimpin yang sukses. Pada acara yang juga dihadiri oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan & Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan, Dr. Zarof Ricar, SH., S.Sos., M.Hum, ini, bahwa untuk menjadi seorang sekretaris yang sukses, pria kelahiran Sumenep ini mengatakan harus berubah dalam segala hal, salah satunya adalah mengubah pola pikir dari dilayani menjadi melayani, dari membutuhkan menjadi dibutuhkan. “Jika kalian bekerja sudah sesuai SOP itu artinya sudah melayani pimpinan, tidak perlu sampai menyemir sepatu pimpinan,” ujar mantan Kepala Badan Pengawasan Mahkamah Agung yang disambut tawa para peserta ini. Sunarto juga menjelaskan bahwa kesuksesan di dunia tidak berarti apa-apa, jika kesuksesan akhirat tidak dikejar. Ia berpesan kepada para sekretaris agar amanah jabatan dijadikan sebagai ladang amal, karena lelah kerja keras bisa menjadi pahala jika niat bekerja semata-mata untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, jika hal ini dilaksanakan, maka sukses dunia dan akhirat bisa diraih bersamaan.

Lebih lanjut pada acara yang dipandu oleh Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan, Edward Tumimbul Hamonangan Simarmata, SH., LLM., MTL, tersebut, Wakil Ketua MA Bidang Non Yudisial tersebut mengatakan bahwa terdapat 9 kunci yang harus dipraktekkan jika ingin menjadi pimpinan yang sukses di dunia dan di akhirat.

  1. Mengubah cara kerja dari today is today menjadi tomorrow is today. Mengerjakan pekerjaan hari ini pada hari ini sudah biasa, mulai Sekarang Sunarto memerintahkan untuk mengubah bahwa hari ini kita harus mengerjakan pekerjaan besok bukan pekerjaan hari ini apalagi pekerjaan kemarin. Perubahan ini harus dimulai dari hal yang terkecil, mulai dari sendiri, dan mulai saat ini.
  2. Mengubah cara fikir dari minta dilayani, menjadi melayani. Menjadi orang yang dibutuhkan bukan orang yang membutuhkan, orang yang dibutuhkan pasti akan dicari kemanapun dan di manapun, sedangkan  orang yang membutuhkan pasti akan menggunakan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhannya itu.
  3. Kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas. Prinsip melayani adalah meletakkan kepentingan pribadi dibawah kepentingan publik. Mantan Kepala Badan Pengawasan tersebut juga mengatakan bahwa menjadi besar karena cacian, karena cacian adalah madu sebaliknya jangan besar karena pujian, karena pujian adalah racun. Dan yang terpenting bahwa menjadi pemimpin itu haruslah bekerja ikhlas, semua ditujukan hanya untuk mencari ridho Tuhan yang Maha Esa, sehingga betapapun lelah yang diderita, namun jika sudah ikhlas, maka semua akan bernilai ibadah.
  4. Memastikan diri sebagai teladan bukan hanya bagi orang lain tapi yang paling penting adalah bagi diri sendiri. Pemimpin yang baik memiliki intelektualitas dan integritas yang tinggi, dan tidak menjadi bagian dari masalah.
  5. Menjadi promotor untuk diri sendiri (Long life campaign). Setiap pimpinan harus menjaga sikap, tutur kata dan perilaku.
  6. Change or die. Siapa yang tidak mau berubah maka harus siap digilas.
  7. Budayakan malu, baik malu kepada Tuhan, malu kepada masyarakat dan malu kepada diri sendiri
  8. Whistleblowing system, aparatur yang mengetahui adanya pelanggaran harus melapor, karena diam terhadap suatu pelanggaran berarti melakukan pembiaran.
  9. Hindari Ego sektoral. Tidak boleh memikirkan diri sendiri, intinya menurut Pria asal Madura ini bila tidak bisa menjadi matahari, cukuplah menjadi lilin yang menerangi diri sendiri, jika tidak bisa menjadi jalan besar, cukuplah menjadi jalan setapak yang bisa kita lewati sendiri. (azh/RS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *